HARUSKAH AKU YANG MENGALAH?
# A Story~
"Hari ini gue sebel banget, kenapa harus gue
yang dicuekin? Sedangkan yang lain engga?
Apa dia emang sebenernya benci ke gue? Tapi
gue sayang sama dia, cinta sama dia banget
Dan gue juga udah berikan yang terbaik buat
dia, tapi dia bales gak sesuai sama kebaikan
gue :') I'm okay."
Mungkin itu secarik goresan tentang apa yang A
rasakan dihari ini.
Memang, A sudah lama memendam perasaannya
ke AB. Walau, dia sempat menjadikan O dan B
sebagai pelampiasan agar A dapat melupakan
AB.
A juga tak mengerti, kenapa dirinya bisa sayang
dan cinta banget ke AB. Padahal, banyak sekali
orang yang lebih baik selain AB.
"Gak tau kenapa gue bisa mencintai AB, mungkin
karena selama ini dia yang gue anggep terbaik."
Itu secuil kalimat yang selalu A ucapkan kepada
teman-temannya yang selalu mendukung A agar
bisa Move On. Namun, apa daya? A tetap saja
berpegang teguh pendiriannya, dan tetap
bertahan untuk mencintainya.
Miris memang, setiap hari menahan sakit. Setiap
hari merasakan kecemburuan. Setiap hari
melihatnya mencintai orang lain. Dan semuanya
pun hanya bisa dipendam dalam hati.
Sebenarnya AB juga berlaku baik kepada A,
namun hanya ketika AB sedang membutuhkan A.
Tega bukan? Tapi A tetap saja berlaku baik
meski berulang kali dikhianati, mungkin itu arti
cinta yang sesungguhnya. Hanya karena cinta, A
rela melakukan apapun demi orang yang ia
cintai.
Bodoh, memang bodoh.
"Setidaknya diriku pernah berjuang,
meski tak pernah ternilai dimatamu.."
Setiap hari, lagu itu dinyanyikan. Takkala juga
diiringi derai airmata. Betapa tidak, selama ini A
sudah melakukan sesuatu hal demi AB. Bahkan
membantu AB dikala butuh bantuan. Tapi, tidak
untuk AB. Dia justru tak membalas kebaikan A.
Mungkin AB benci kepada A, atau mungkin AB
belum tau jika A mencintainya?
Yang jelas, AB telah membuat A depresi. Dengan
sikap AB yang keras seperti batu, namun A
berusaha untuk tetap bertahan demi cinta dan
kasih sayangnya kepada AB.
"Oh Tuhan tolonglah aku, hapuskan rasa cintaku.
Aku pun ingin bahagia, walau tak bersama dia..."
Itulah lirik lagu yang mungkin menjadi teman
sehari-harinya. Yang menjadi satu pertanyaan,
dibalik sikap AB yang begitu keras, mengapa A
tetap saja bertahan? Memang ini demi cinta dan
kasih sayang, tapi apakah rela hati hancur tak
karuan?
"Rela banget gue kalau harus sakit hati begini,
karena gue sayang dan cinta banget sama dia:')"
cetus A ketika dibujuk untuk segera melupakan
AB.
Setelah sekian waktu, A mulai berfikir, dan mulai
menyadari bahwa rasa cinta, kasih sayang, dan
perjuangannya kepada AB tak pernah dihargai,
bahkan tak pernah ternilai sama sekali.
Kini A mencoba untuk melupakan AB, mencoba
untuk tidak mencintai dan menyayangi AB lagi.
Namun, lagi-lagi gagal. Bayangan AB selalu
datang difikirannya.
"Argh! Kenapa gue jadi gini sih? Gue cape nahan
batin yang sakit! Cape nangis mulu tiap hari!
" ucap A dalam hati.
Suatu ketika, A mengetahui jika AB telah
mengkhianatinya . AB telah tega berbicara busuk
dibelakang A.
"Ahh males gue sama A!" ucap AB waktu itu.
Tak sengaja ada teman A yang mendengar
ucapan AB, lalu teman A segera memberitahu
kejadian itu kepada A.
"Yakin dia begitu? Gue gak percaya kalo AB
bisa kaya gitu.." tanya A.
Kemudian, teman A berusaha meyakinkan bahwa
AB memang telah berbicara seperti itu
dibelakang A. Namun, akhirnya A percaya dengan
perkataan temannya.
"Ya Tuhan, gue salah apa? Dia tega banget
sama gue, gue yang selama ini rela berkorban
buat dia tapi dia malah gitu sama gue.." ucap A
dalam hati.
Suatu hari, (bersambung..)
No comments:
Post a Comment